Balada Cinta dalam Secuil Bara

Tuesday, April 10, 2018

Tinder, because you can always judge the book by its cover.

Mungkin adalah sebuah hal yang konyol ketika saya dan jutaan warga dunia lainnya menggantungkan urusan cinta yang diharap akan muncul secara cuma-cuma dari dalam gawai seukuran telapak tangan. Geser ke kiri dan tak kunjung ke kanan, semudah itu bagi kita satu sama lainnya menilai ratusan orang asing. Di era digital ini, terkadang memilih jenis ponsel yang kita inginkan terasa lebih sulit dibanding memilih calon kekasih. Tanpa perlu pikir panjang, tidak usah buang-buang waktu, cukup mudah menentukan sikap untuk suka atau tidak suka.

Manusia memang se-judgemental itu, semua dapat kita nilai seenak jidat tanpa perlu repot-repot untuk mengenal para ‘calon’ kekasih itu terlebih dulu, bahkan berhasrat untuk mengenal pun tidak. Mulai dari wajah, umur, pekerjaan yang tertera—itu pun kalau ada, dan foto-foto terbaik yang dipajang dengan narsisnya. Percayalah, beberapa tahun terakhir saya habiskan waktu untuk swipe sana-sini hanya untuk mengisi kebosanan. Semua niat akan luntur ketika matched dengan seseorang di sana. Apalagi saat kamu menemukan fakta bahwa mereka tidak menarik-menarik amat karena chat pertama yang muncul hanya perihal tinggal dan kerja di mana. Hanya ada dua orang yang saya rasa menarik, satu sudah menjadi mantan pacar, dan yang satunya lagi sudah menjadi salah satu orang terdekat dan seorang sahabat yang baik bagi saya dalam beberapa bulan terakhir.

Dan tentu saja, kita manusia memang setidak tahu diri itu. Berharap sesuatu yang besar akan terjadi padahal usahanya hanya sebatas geser jempol ke kiri dan kanan. Saya tidak mengatakan bahwa online dating mutlak hopeless. Well, in some part, it is hopeless, but dude, you know we’re spending a lot more time on our phone and internet. We even talk more on the internet than we do in our real lives, jadi saya rasa tidak ada salahnya mencari calon pujaan hati di internet. Toh jodoh itu jorok karena bisa bertemu di mana saja, termasuk dunia maya. Belum lagi fakta yang sudah banyak terjadi bahwa banyak yang menemukan jodohnya dan menikah dengan seseorang yang mereka temukan di internet, aplikasi online dating, media sosial, dan semacamnya-dan semacamnya.

Namun, pointnya bukan itu. Bukan dari mana kamu menemukan seseorang yang nantinya akan dianggap penting, bahkan sangat penting. Seperti yang kita semua ketahui, manusia adalah makhluk dinamis, tak terkecuali soal mengikuti perkembangan jaman. Teknologi yang maju sedikit banyak telah mengubah cara seorang manusia menjalani hidup: bekerja, bersosialisasi dengan manusia lain dan lingkungan sekitar, dan tentu saja tanpa terkecuali soal urusan jodoh. Kesalahan yang belakangan terjadi tidak terletak pada di mana seseorang bertemu calon jodohnya, melainkan bagaimana ia meneruskan hubungannya setelah mereka menemukan sang calon jodoh.

Akhir bulan April ini salah satu teman kantor saya akan menikah dengan seorang wanita yang dikenalnya lewat Tinder. Tidak perlu waktu lama, hanya beberapa bulan saja, teman saya yang tergolong pria ‘lurus’ ini yakin dengan sang calon istri setelah mereka traveling bersama. Surprisingly, wajah mereka mirip. Aneh? Nggak wajar? Tentu nggak, karena yang namanya jodoh tetaplah jodoh yang dipertemukan oleh Yang Maha Esa, tidak peduli bagaimanapun caranya. Saya termasuk orang yang percaya bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan, kita hanya tinggal berusaha menjalaninya dengan ikhlas.

Kembali ke point saya di atas, bukan bagaimana cara kamu bertemu dengan sang calon jodoh, tapi bagaimana cara kamu meneruskan hubunganmu setelah kamu menemukan mereka. Ketika kamu berkenalan dengan seseorang melalui mutual friends, tentu sama usahanya ketika kamu berkenalan dengan seseorang di jagat internet. Namun, yang kadang bikin jengkel adalah para oknum yang menjadikan media sosial sebagai justifikasi bahwa sah-sah saja mempermainkan seseorang yang mereka temukan dari internet. It’s just a Tinder after all, yeah? Padahal, siapa pun orang itu, tidak ada pembelaan yang bisa digunakan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang dapat menyakiti seseorang. Apakah mereka yang kamu temui dari internet lantas tidak punya perasaan?

Saya tidak akan berpihak pada mereka yang memilih kenalan dengan cara konvensional atau mereka yang berkenalan melalui media digital. Tentu semua kembali ke pada personal masing-masing. Saya pun tidak menutup diri untuk berkenalan dengan orang baru dengan cara apapun, meski saya akui semakin bertambahnya umur, maka semakin kecil circle yang seseorang miliki. Namun, sebaiknya memang tidak perlu berharap banyak akan menemukan belahan jiwa di internet, kecuali kamu memang sudah benar-benar menjalaninya dan kamu merasa yakin dia memang jodohmu.


Pada akhirnya, dari manapun kamu menemukan jodohmu, pasti mereka lah yang kamu rasa paling pantas untukmu. We accept the love we think we deserve, right?

You Might Also Like

0 comments